PADANG | Di tengah meningkatnya jumlah sarjana muda dan semakin ketatnya persaingan dunia kerja di Sumatera Barat, sekelompok anak muda memilih tidak hanya menjadi penonton keadaan. Mereka berkumpul, berdiskusi, menyusun gagasan, hingga mencoba melahirkan solusi nyata melalui ruang-ruang intelektual yang hidup dan penuh keberanian berpikir. Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan Diskusi Bacrit (Banyak Cerita) Season 3 yang digelar Idealiz Indonesia di Baka Coffee, Sekretariat Yayasan AFTA, Jalan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sabtu (9/5/2026).
Mengangkat tema “Sarjana Generasi Z Membludak: Loker Sumbar Dimana?”, kegiatan tersebut menjadi magnet bagi berbagai kalangan muda, aktivis sosial, pelaku usaha, hingga tokoh organisasi di Sumatera Barat. Diskusi berlangsung hangat, penuh kritik, namun tetap menghadirkan harapan bagi generasi muda yang hari ini tengah menghadapi tantangan besar dalam mencari ruang kerja dan kesempatan berkembang.
Idealiz Indonesia sendiri dikenal sebagai platform orkestrator generasi yang fokus pada ide dan analisis dari perspektif Gen Z Indonesia. Melalui slogan “One Youth is Not Enough”, komunitas ini aktif menyuarakan berbagai isu kepemudaan, sosial, pendidikan, hingga ekonomi melalui media sosial Instagram @idealizindonesia serta berbagai forum diskusi yang rutin digelar.
Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut sejumlah tokoh dari berbagai disiplin dan sektor, di antaranya Ahmad Hafiz selaku CEO PT Witbox Creative Media, Kevin Philips dari GAPEMBI Sumbar, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sumbar yang diwakili Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Padang Arnov Tri Hartanto, B.Eng., M.Sc., M.Eng., kemudian CEO Agraris Indonesia Aseng Siregar, Ketua DPD KSPSI Sumbar Rully Eka Putra, serta Ketua PW GP Ansor Sumbar Chaydirul Yahya.
Diskusi itu tidak hanya membahas sempitnya lapangan kerja, namun juga mengupas persoalan kesiapan generasi muda menghadapi dunia industri, minimnya ruang kreativitas, lemahnya ekosistem usaha baru, hingga pentingnya membangun keberanian anak muda untuk menciptakan peluang sendiri.
Panglima Idealiz Indonesia, Arif Zulfriansyah Siregar atau yang akrab disapa Aseng Siregar, menegaskan bahwa forum seperti ini bukan sekadar tempat berbicara tanpa arah. Menurutnya, anak muda Sumatera Barat membutuhkan ruang berpikir yang sehat, kritis, dan menghasilkan gerakan nyata.
“Asal jangan hanya melihat ini sebagai diskusi biasa. Kalau cuma diskusi tanpa aksi memang tidak akan ada hasilnya. Tapi masalahnya hari ini justru ruang diskusi yang sehat itu sedikit. Akibatnya banyak aksi yang tidak punya arah dan tidak melahirkan solusi,” ujar Aseng di hadapan peserta diskusi.
Ia menyebut, Idealiz Indonesia hadir sebagai rumah bersama lintas sektor tanpa embel-embel politik maupun kepentingan tertentu. Semua pihak, kata dia, diberi ruang yang sama untuk bertukar gagasan demi masa depan Sumatera Barat yang lebih baik.
“Ini murni kolektif. Tidak ada sponsor kepentingan, tidak ada warna politik. Mau dari organisasi manapun, kampus manapun, semua boleh hadir. Karena yang menentukan masa depan daerah ini ya anak-anak mudanya sendiri,” tegasnya.
Menurut Aseng, kondisi Sumatera Barat hari ini membutuhkan keberanian generasi muda untuk tidak hanya sibuk mengkritik, tetapi juga mampu menyusun peta solusi dan langkah nyata. Ia menilai, banyak potensi anak muda yang belum terkoneksi dengan baik sehingga kehilangan arah dan kesempatan berkembang.
Suasana diskusi berlangsung cair namun penuh substansi. Para peserta yang didominasi generasi muda terlihat aktif menyampaikan pandangan terkait sulitnya mencari pekerjaan usai lulus kuliah, ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, hingga persoalan rendahnya dukungan terhadap kreativitas anak muda di daerah.
Di sisi lain, para narasumber juga mendorong generasi muda untuk tidak terpaku menjadi pencari kerja semata. Dunia digital, ekonomi kreatif, pertanian modern, hingga industri berbasis teknologi disebut sebagai peluang besar yang masih terbuka luas apabila mampu dimanfaatkan secara serius.
Kepala BPVP Padang, Arnov Tri Hartanto, dalam pemaparannya menekankan pentingnya peningkatan keterampilan vokasi dan kompetensi praktis bagi generasi muda agar mampu bersaing di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.
Sementara itu, Ketua DPD KSPSI Sumbar Rully Eka Putra menilai perlu adanya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas anak muda agar persoalan pengangguran sarjana di Sumatera Barat tidak terus menjadi lingkaran masalah tahunan.
Forum Bacrit Season 3 tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa ruang-ruang kecil yang lahir dari semangat kolektif mampu menghadirkan energi besar bagi perubahan sosial. Dari sebuah kedai kopi sederhana di Kota Padang, lahir percakapan panjang tentang masa depan generasi muda dan arah pembangunan Sumatera Barat.
Di akhir kegiatan, Aseng Siregar mengaku bersyukur karena gerakan Idealiz Indonesia mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk kalangan media yang membantu menyebarkan semangat positif anak muda Sumatera Barat.
“Terima kasih kepada semua pihak yang mendukung, terutama rekan-rekan media. Ini bukan soal Idealiz saja, tapi tentang bagaimana anak muda Sumbar punya ruang untuk tumbuh, berpikir, dan memberi dampak,” tutupnya.
TIM













Komentar