oleh

UNP Gelar FGD Penguatan UMKM Busana Tradisional, Baju Kuruang Basiba Menuju Identitas Budaya Global

PADANG | Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang (UNP) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya melalui kegiatan Equity Program Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Kegiatan yang mengangkat tema penguatan UMKM busana berbasis kearifan lokal untuk mendukung ekonomi kreatif dan pembangunan berkelanjutan di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota tersebut digelar di Mande Meeting Room Lantai 6 Premiere Basko Hotel Padang, Kamis, 2 Juli 2026.

FGD berlangsung dalam suasana hangat, penuh keakraban, serta diwarnai diskusi yang konstruktif antara para narasumber dan peserta. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman sekaligus menyampaikan hasil pendampingan yang telah dilakukan kepada para pelaku UMKM busana di Nagari Lubuak Batingkok.

Program pengabdian tersebut difokuskan pada pelatihan dan pendampingan UMKM berbasis kearifan lokal dengan tujuan melestarikan warisan budaya Minangkabau melalui pengembangan Baju Kuruang Basiba sebagai identitas budaya yang memiliki nilai filosofi, etika, dan estetika tinggi.

Selain melestarikan budaya, program ini juga diarahkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat melalui peningkatan kualitas produk busana tradisional. Baju Kuruang Basiba diharapkan semakin luas digunakan di lingkungan pemerintahan, dunia pendidikan, hingga masyarakat umum sehingga mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi para pelaku UMKM.

Kegiatan tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi, jajaran Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Sumatera Barat, perwakilan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, LKAAM Sumbar, insan media, akademisi, serta berbagai undangan lainnya.

FGD secara resmi dibuka oleh Direktur Kerjasama, Reputasi dan Internasionalisasi UNP Prof. Rusnardi Rahmat Putra yang diwakili Desvalini Anwar, S.S., M.Hum., Ph.D. Pembukaan tersebut menjadi penanda dimulainya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Sebanyak delapan narasumber hadir memberikan pandangan dari berbagai perspektif. Prof. Dr. Agusti Efi, M.A. memaparkan hasil pelatihan dan pendampingan UMKM busana di Nagari Lubuak Batingkok sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat yang telah menghasilkan peningkatan kemampuan para perajin.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi menyampaikan materi mengenai penguatan penggunaan Baju Kuruang Basiba bagi ASN dan pelajar di Sumatera Barat. Kebijakan tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus meningkatkan permintaan terhadap produk UMKM lokal.

Dari perspektif internasional, Dr. Asliza dari Universiti Teknologi MARA Malaysia memaparkan filosofi dan estetika Baju Kuruang Basiba. Sementara itu, Dinas Kebudayaan Sumbar menjelaskan bahwa busana tradisional tersebut merupakan warisan budaya yang sarat nilai adat, etika, serta identitas masyarakat Minangkabau.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbar H. Novrial menjelaskan pentingnya pemberdayaan UMKM sektor busana dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pelaku usaha. Sedangkan Dinas Pendidikan Sumbar memaparkan implementasi Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 6 Tahun 2026 terkait penggunaan Baju Kuruang Basiba di lingkungan pendidikan.

Kepala BKD Sumbar Fitrianti menekankan pentingnya Baju Kuruang Basiba sebagai identitas budaya dalam membangun karakter ASN. Selanjutnya Kepala BPSDM Sumbar Barlius menjelaskan strategi pelestarian budaya melalui pelatihan serta penerapan busana tradisional tersebut sesuai ketentuan pemerintah daerah.

Ketua Panitia FGD, Prof. Dra. Ernawati, M.Pd., Ph.D menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut setelah pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat. Menurutnya, hasil pendampingan tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi harus disosialisasikan secara luas agar memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat.

Prof. Ernawati mengungkapkan rasa syukur atas dukungan seluruh narasumber, khususnya Sekda Provinsi Sumatera Barat yang memberikan perhatian besar terhadap penguatan penggunaan Baju Kuruang Basiba. Ia optimistis kebijakan tersebut akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan UMKM busana di Sumatera Barat.

Ia juga menjelaskan bahwa Fakultas Pariwisata dan Perhotelan UNP telah mewajibkan penggunaan Baju Kuruang Basiba bagi dosen dan mahasiswa, meskipun masih terdapat sejumlah kendala, terutama kemampuan mahasiswa dalam memiliki busana tersebut. Karena itu, penguatan sektor UMKM menjadi solusi agar produksi semakin meningkat dengan harga yang lebih terjangkau.

Lebih lanjut, Prof. Ernawati berharap Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi contoh daerah yang mampu mengimplementasikan penggunaan Baju Kuruang Basiba di institusi pendidikan. Dengan semakin banyak pengguna, maka peluang usaha bagi para modiste dan pelaku UMKM akan semakin berkembang.

UNP juga berencana menindaklanjuti pengembangan Baju Kuruang Basiba melalui pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), termasuk penyusunan standar desain yang tetap mempertahankan nilai budaya Minangkabau namun mampu mengikuti perkembangan zaman sesuai kebutuhan berbagai kelompok usia.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan masyarakat diyakini akan menjadi kekuatan besar dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif di Sumatera Barat. Melalui sinergi tersebut, Baju Kuruang Basiba diharapkan semakin dikenal sebagai identitas budaya yang membanggakan hingga tingkat nasional maupun internasional.

Catatan Redaksi: Program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan Universitas Negeri Padang menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku UMKM menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal.

TIM RMO

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *