PADANG | Padang kembali menjadi pusat perhatian nasional dengan digelarnya Temu Nasional Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) PTKIN se-Indonesia tahun 2026 yang berlangsung pada 27–30 April 2026 di Hotel Truntum Padang. Kegiatan berskala nasional ini mempertemukan puluhan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri dalam upaya memperkuat sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Hotel Truntum Padang menjadi lokasi strategis penyelenggaraan forum penting tersebut.
Ajang ini secara resmi diinisiasi oleh Presedium Lembaga Penjaminan Mutu PTKIN (PILJAMU) dan menjadikan UIN Imam Bonjol Padang sebagai tuan rumah penyelenggara. Sebanyak 55 LPM PTKIN dari seluruh Indonesia hadir untuk menyinkronkan dokumen Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebagai fondasi utama peningkatan mutu kelembagaan. Kegiatan ini juga menjadi ruang strategis dalam menyatukan arah kebijakan mutu antarperguruan tinggi Islam.
Ketua Pelaksana, Dr. Hermawati, M.Si, menjelaskan bahwa total peserta yang hadir mencapai 192 orang, terdiri dari 184 peserta LPM dan LP2M PTKIN se-Indonesia, ditambah unsur LPM UIN Imam Bonjol Padang sebanyak delapan orang. Ia menegaskan bahwa kehadiran peserta menunjukkan komitmen kuat dalam membangun sistem mutu yang terintegrasi dan berkelanjutan di lingkungan PTKIN.
Hermawati juga menyampaikan apresiasi atas partisipasi berbagai perguruan tinggi swasta di Sumatera Barat yang turut diundang dalam forum ini. Kehadiran institusi seperti Sekolah Tinggi Diniyah Putri Padang Panjang, STT Ahlussunnah Bukittinggi, STT Painan, dan STT Arrisalah menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi penguatan standar mutu lintas perguruan tinggi.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi swasta penting agar terjadi penyamaan persepsi dalam penyusunan standar mutu pendidikan tinggi. Selain itu, forum ini diharapkan mampu menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik dalam implementasi sistem penjaminan mutu di masing-masing institusi.
Ketua Presedium PILJAMU PTKIN, Prof. Dr. Budiono, M.Pd, menegaskan bahwa perkembangan regulasi terbaru, termasuk Permendikti Saintek 39 Tahun 2025, menjadi dasar penting dalam penguatan dokumen SPMI. Ia menekankan bahwa setiap perguruan tinggi wajib menyiapkan dokumen secara sistematis agar mampu mempertahankan bahkan meningkatkan status keunggulan institusi.
Budiono juga menyoroti bahwa tantangan terbesar bukan hanya meraih predikat unggul, tetapi mempertahankannya secara berkelanjutan. Oleh karena itu, sinkronisasi dokumen dan penguatan implementasi SPMI menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika akreditasi nasional maupun internasional.
Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi PILJAMU dalam memperkuat agenda mutu pendidikan tinggi Islam. Ia menilai kegiatan ini sebagai forum strategis yang secara berkelanjutan mendorong peningkatan kualitas akademik di lingkungan PTKIN.
Prof. Martin menegaskan bahwa SPMI bukan hanya dokumen administratif, tetapi telah menjadi instrumen penting dalam setiap proses akreditasi program studi. Hampir seluruh asesmen lapangan dari berbagai lembaga akreditasi selalu menempatkan SPMI sebagai indikator utama yang diperiksa sejak awal proses evaluasi.
Ia juga menambahkan bahwa penguatan budaya mutu harus menjadi bagian dari transformasi layanan pendidikan tinggi. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama yang mendorong implementasi “kurikulum cinta” sebagai pendekatan humanis dalam pendidikan, yang menekankan nilai kasih sayang, karakter, dan keunggulan lulusan.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli LPM UIN Imam Bonjol Padang, Alfred, S.Th.I., M.Sos, menjelaskan bahwa kegiatan ini juga mengintegrasikan peran LPM dan LP2M dalam satu ekosistem mutu yang saling mendukung. Menurutnya, sinkronisasi antara dokumen mutu, penelitian, dan pengabdian masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem perguruan tinggi yang kuat.
Ia menegaskan bahwa LPM berperan dalam penyusunan standar, sementara implementasinya berada pada LP2M. Karena itu, kolaborasi keduanya menjadi penting agar seluruh siklus mutu berjalan selaras dan menghasilkan dampak nyata bagi pengembangan institusi.
Forum nasional ini juga diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan strategis terkait standar SPMI yang lebih adaptif terhadap perkembangan regulasi dan kebutuhan global. Dengan demikian, PTKIN di Indonesia dapat terus bergerak menuju perguruan tinggi yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing internasional.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi dokumen, tetapi juga memperkuat jejaring akademik antarperguruan tinggi Islam di Indonesia. Semangat kolaborasi yang terbangun di Padang diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi berbasis mutu dan integritas.













Komentar